Masihkah ingat? Tentang Kita di suatu petang?

Pada petang pertama dalam hidup kita. Saat itu masa di mana semesta tak meragukan, ia lebih banyak membuka kepastian kepastiannya. Alur yang sempat tersedat akibat kamu yang mulai menyebrang, meninggalkan sejuta mimpi yang ternyata baru aku sadari jika hanya aku yang merajutnya sendiri. Taukah kamu? Dalam petang pertama itu, masa bertanya tentang mengapa semesta membuat banyak kepastian? Apakah itu karena ia iba? Pada kita yang bersama tapi seolah sendiri.

Saat itu, kita duduk di tepian jalan sambil menunggu angkutan kota datang. Aku akan melanjutkan perjalanan, sedang kau sengaja menanyakan keberadaanku agar dapat bertemu.

“aku ingin bila setiap rapalan doaku akan sampai pada langit, juga tentang doamu agar sama sepertiku, doa kita, sampai pada langit” kau mengajak ku berbicara sambil menengadah, seolah kau melihat jelas bagaimana perjalanan doa doa sampai ke langit sana.

“hmm, apakah doa yang sampai di langit saling bertemu dan akhirnya tersambung? Atau doa doa itu hanya berpapasan? Dan mungkin saja doa tentang kita, saling berbenturan hingga akhirnya hilang. Sebab ku rasa ego tentang kita, yang saling ingin memiliki tapi tak mampu mencintai Tuhan kita sendiri”

Kamu diam, tak ada jawaban.

Aku berdiri, kendaraan yang kutunggu akhirnya tiba.

“kamu bisa? Menjaga hatimu untuk suatu saat? Bila bukan dengan ku, mungkin dengan orang lain, ia yang lebih baik dari ku, ia yang pandai menjaga hati dan tak sembarang memberikan. Sebab aku ingin yang terbaik, tentang kita” aku melenggang pergi, meninggal tanpa mendengar jawaban terakhir itu.

Ku kira cukup, biar aku yang menerka jawabanmu dengan melihat seberapa niat hatimu.

Semoga saja, doa yang saling berbenturan itu bukan kita.

Hilang dan Kebahagiaan

Kau tahu? Dari sekian waktu, di satu hari aku memikirkan kapan dua puluh lima jam hadir. Dua puluh empat jam akan aku pakai untuk mencari yang hilang, sisanya aku akan bersenda gurau dengan keadaan yang mengakibatkan ku lelah dalam pencarian. Bila sedari awal kau tak berbisik padaku tentang ketenangan yang kau dapatkan dalam genggamku, mungkin saat ini aku tak akan mencari dirimu yang sudah berbentuk kehilangan, aku akan terbiasa sendirian dan berjalan tanpa digenggam.

Aku mencari, sebab sudut kecil dalam hatimu riuh oleh ketenangan yang pergi.

Aku mencari, sebab pikirku kau akan gelisah sendiri.

Namun semakin berlalu aku mengerti, bila mencoba mencari akan membawa dirimu pulang pada ketidak percayaaan, dan rasa tak memiliki. Keegoisan yang teramat membuatku malu sebab teringin kau pulang dengan cepat, bila tak pada diriku mungkin pada tempat lain, asal kau pulang dengan perjalan baik dan selamat.

Mungkin dulu, saat masa dimana ketidak percayaanmu pada semesta hadir, membuat kau tak kuat berlama lama sendiri dan mencoba mengais tanganku serta menggenggamnya lebih lama. Sekarang aku bangga, kau lebih hebat dariku dalam menerjang luka, hingga membuatmu lupa pada siapa kau harus berlari terbirit saat kegagalan atau kedalaman luka tak dapat terkendali. Saat inilah, dimana aku ingin mendengar cerita yang sudah lama tak kau bagi, semua keluh, serta semua kebahagian pagi yang kau dapat hingga senja menyingsing dari mega.

Ketidak sempurnaan milikmu dulu, kini aku rapihkan menjadi catatan kenangan yang terabadikan untuk kau letakan dalam baris perjuangan saat kau pulang, bukan pulang pada rumah tempat luka bersemayam, tapi pulang pada istana kesunyian yang akan kau ramaikan dengan keindahan renjana.

Semoga dengan perjalanan hebat itu, kau dibuat percaya dan semakin percaya bila keajaiban tuhan memang ada, bila ikhtiyar akan membawa semua luka dan mengalihkannya pada rentetan rencana sang pencipta.

Akan aku tunggu,

Kisah mengagumkan tentang merawat cinta pada pemilik semesta hingga kau tak berpikiran lagi jika semuanya terbuang percuma.

Akan aku tunggu.

Semua tentangmu di suatu kelak.