sembilu

Masih ditempat yang sama, saat orang orang pergi berkelana mencari tempatnya yang baru.

Waktu itu bulan April, saat kau memulai pencarian rencana, mengapa baru saat itu? Padahal sudah sejak kapan orang orang yang lain sibuk dengan rencana yang akan mereka lakukan selepas lulus putih abu abu.

Berpamitan adalah awal dari sebuah degup yang sadar perihal kepergian. Malam itu saat yang tak sampai untuk bercerita banyak hal, hanya sekedar berucap ‘aku pergi’ yang bisa terbaca dalam telepon genggam yang usang. Kiraku itu akan berlangsung lama, ternyata tak lebih dari sepekan berita kedatangan itu hadir kembali.

Namun, awal bulan Juni menjadi bibit kepergian yang tak akan menggembalikan. Pamit itu berucap lagi, tutur itu akan lenyap ditelan sunyi, kedatangan yang akan mulai di cari hingga senja berubah pagi. Dan mungkin awal dari cerita tentang kehidupan kita yang akan berbeda.

Aku becengkrama dengan duniaku, pun kau yang pergi dengan tak meninggal jejak selain sunyi. Mimpi yang telah lama terawat kau tinggalkan dengan jejak yang sama sekali tak terlihat, seolah ingin hilang lepas dengan angan yang mengawang. Ku tahu hatimu berat, sebab harus beranjak dengan dengan alur mimpi yang mulai terkoyak.

Pada bulan juni itu pun, menjadi sebuah petualangan baru dalam mencari tempatku yang akan mengeluarkan semua ambisi dan imajinasi.

Jalur dalam membuka gerbang ternyata tak sehebat kepercayaan yang saat itu paling menghangatkan, aku gagal dalam beberapa jalur menuju universitas. Padahal, tekad saat itu sangat kuat hingga si jiwa sangat yakin akan lolos seperti orang orang hebat. Kenyataannya Tuhan belum berpihak, ia masih sayang padaku dan menyuruhku untuk lebih keras berusaha.

Bila kekecewaan tengah menertawakanku saat itu, mungkin kau telah lebih dulu ditertawakan. Sebab pergi dengan meninggalkan mimpi dan berfikir tak akan bisa kembali.

Aku lega saat kegagalan mencoba membopongku agar lebih kuat menggenggam doa,  dan ku tahu kau pun sama.

Ingat, pernah kau berucap jika doa adalah senjata yang paling kuat dalam menembus segala ketidak mungkinan? Ya aku percaya, dan terimakasih kau telah menuturkan itu kembali.

Saat ini, kita berbatasan portal yang menghantarkan kebahagiaan berbeda, tapi dengan cerita yang kesekian aku berharap mimpimu bisa terukir kembali, membawa sejuta kesiapan yang saat ini tengah kau rajut, semoga cengkrama itu hadir dalam merawat mimpi seperti saat sebelum kau pergi.

3 tanggapan untuk “sembilu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s